Ular Tangga Bali oleh Maya Kerthyasa

Karena hidup memberi kami Snake and Ladders, The Yak memutuskan untuk berbincang dengan Maya Kerthyasa, seorang illustrator pecinta ular dan kaum ningrat Bali yang bekerja sama dengan Elami & Co.

Snakes and Ladders

Hemat Rp. 50.000,- untuk harga produk ini di Yak Toko. https://bit.ly/3kOz0Sn

Ceritakan sedikit tentang dirimu…

Halo! Saya seorang penulis dan baru-baru ini juga menjadi illustrator. Saya menghabiskan hidup dengan berpindah-pindah antara Bali dan Sydney, dan sekarang akhirnya berumah di Indonesia. Jurnalis kuliner adalah pekerjaan utama dalam karir saya. Saya suka makan, memasak, dan menulis, dan itu semua bagus sebagai modal. Tetapi, beberapa tahun belakangan ini, saya juga begabung dalam beberapa acara dan pekerjaan kreatif untuk hotel, restoran, dan beberapa merk.

Kami lihat akun Instagram ilustrasimu dan kami suka itu! Apa atau siapa yang menginspirasimu untuk memulai perjalanan senimu?

Perjalanan ke Sidemen menjadi bahan bakar perjalanan baru ke ilustrasi. Saya ke sana untuk sebuah proyek menulis dan berakhir menghabiskan hampir seluruh waktu saya di sana untuk menggambar (baca: menunda pekerjaan). Akhirnya, ini menjadi latihan sehari-hari dan di sana lah awal dari semuanya. Orang tua saya ternyata juga seniman yang luar biasa. Mereka sangat menginspirasi saya. Saya suka melihat-lihat buku sketsa ayah saya saat dia masih sekolah dan karya ibu saya anehnya sama dengan saya. Saya bahkan tidak tahu karya ilustrasinya sampai dia menunjukkan saya beberapa karya yang dia gambar sebelum saya lahir. Kami menaruh karya kami bersebelahan dan ternyata kami memakai bentuk, tema, dan bahkan teknik yang sama.

Snakes and Ladders

Apa yang membuat ilustrasimu berbeda dari yang lain? Kami lihat kamu sering menggambar hitam putih.Betul. Saya hanya menggambar dengan pulpen hitam di atas kertas putih. Buat saya, menggambar adalah sebuah latihan meditasi, jadi saya suka menyelam lebih dalam dan mengeksplor garis dan pola-pola yang indah. Saya juga berpatokan pada alam dan makhluk mistis sebagai subjek utama – ada bagian kekanakan dalam diri saya yang berharap bisa naik ke puncak gunung berselimut awan dan berteman dengan kuda bersayap dan naga. Seorang perempuan bisa bermimpi.

Apa saja momen terpenting dalam hidupmu sejauh ini?

Kelahiran anak saya. Tentunya itu adalah yang nomor satu. Setelahnya, bekerja di beberapa majalah di Sydney, menjadi seorang tante, turut membantu menghidupkan Snakes and Ladders, merencanakan pesta makan malam yang liar dengan Elami and Co (dulu ketika acara makan malam adalah hal terasyik), dan mendapat lampu hijau untuk proyek buku yang sudah tidak sabar ingin kubagikan!

Snakes and Ladders

Kamu menggambar, menulis, dan juga menjadi seorang ibu. Bagaimana kamu mengatur waktu untuk bisa melakukan semuanya?

Saya harus mengakui kalau itu adalah sikap keseimbangan. Tapi saya beruntung mendapat dukungan yang luar biasa (terima kasih, Bu).

Kamu adalah seniman ilustrasi untuk Snake and Ladders yang baru-baru ini diluncurkan Elami and Co, bagaimana kolaborasi itu bisa terjadi?

Saya sudah bekerja sama dengan tim Elami selama beberapa tahun. Dari awal saya sudah mengidolakan acara TEDxUbud mereka dan selalu terinspirasi oleh kreativitas mereka. Mereka adalah pesulap! Perjalanan kami bermula saat kami membuat The Dinner Series di tahun 2018. Setelah itu, kami berkolaborasi di beberapa proyek bersama John Hardy Jewelry dan Room4Dessert, yang keduanya tertunda karena Covid. Lalu Snake and Ladders muncul seperti mukjizat di 2020. Elami mulai membuat kotak-kotak seni mereka dan permainan adalah bagian dari gelombang pertama mereka. Mereka datang dengan ide untuk membuat papan permainan dan meminta saya mengilustrasikannya. Saya merasa sangat terhormat untuk menjadi bagian dari proyek ini.

Dari mana kamu mendapat inspirasi untuk membuat ilustrasinya?

Saya suka menjauhkan kehidupan nyata dari karya saya. Prosesnya menyerap saya untuk beberapa jam dan akhirnya saya kembali dengan kartu pos dari fantasi saya. Untuk Snake and Ladders, inspirasinya datang dari hidup di sekitar paon Bali, atau dapur. Saya memasukkan Gunung Agung, naga mistis Basuki dan Anantaboga, dan juga Bedawang Nala, penyu yang membawa bumi di punggungnya, untuk menyampaikan gagasan bahwa memasak dan kehidupan spiritual terhubung secara intrinsik di Bali. Ini juga tidak hanya tentang memasak, tapi tentang menghormati semesta.

Snakes and Ladders

Kami lihat dari akun Instagrammu kalau kamu sangat nyaman dengan ular, tolong beritahu kami lebih dalam.

Kesukaan saya dengan ular adalah sebuah obsesi baru. Dulu sebenarnya saya takut ular. Jadi teman saya menyarankan untuk menghubungi Ron Lilley, lelaki ular yang mengenalkan saya pada teman-temannya. Lalu sisanya adalah sejarah. Salah satu ular Ron tidak hanya bernama Maya, tapi juga berasal dari Ubud – dia bisa jadi hewan spiritualku, kan?

Terakhir, walaupun susah untuk dibicarakan tapi apa rencanamu untuk lima tahun ke depan?

Selama beberapa tahun yang akan datang, saya berfokus menyelesaikan proyek buku saya serta menghaluskan dan membagikan karya-karya ilustrasi saya. Saya dan tim Elami juga akan meluncurkan koleksi alat tulis bernama Write Away yang bertujuan untuk membangkitkan seni menulis huruf. Saya ingin melihat ke arah mana ini akan pergi. Dan saya juga ada beberapa proyek yang sedang direncanakan dan saya yakin ini akan menyibukkan saya dalam beberapa bulan, dan semoga beberapa tahun ke depan.

Terima kasih, Maya.

Terima kasih.

 SHOP NOW!

Balinese Snakes And Ladders With Maya

Where Angels Fear To Tread: Bali Beach Glamping

Follow Us On Instagram