Obrolan Dengan Pendiri Sababay, Evy Gozali

The Yak pada acara wine tasting Sababay di Gianyar berkesempatan untuk berbincang dengan Evy Gozali, co-founder Sababay, tentang hidup, wine, dan Paus.

Evy, bisa ceritakan sedikit latar hidupmu sampai kamu berumur 21 tahun?

Saya lahir sebagai anak sulung dan besar di Jakarta sampai sekitar umur 12 tahun, lalu pindah ke Singapore saat SMP dan saya memutuskan untuk pindah sekolah (agak bosan dengan sekolah pemerintahan, dan saya tertarik ke sekolah Amerika, bukan UK – orang british jangan marah ya! J). Karena tau Ibu saya sibuk, jadi saya cari sekolah sendiri, cari informasi sendiri, lalu pergi test pendaftaran sendiri. Ketika saya lolos pendaftaran, saya langsung kirim proposal ke Ibu saya untuk pindah ke Singapore American School. Dan sejak saat itu, adik-adik saya juga ikut masuk ke sekolah yang sama.

Lalu saya kuliah di Cornell University. Orang tua saya menghapus pilihan ke Pasadena atau California untuk kuliahku, entah kenapa.

Tempat saya kuliah itu di Itacha dan lokasinya benar-benar desa, jauh dari mana-mana dan setiap akhir minggu selalu ada lelang sapi atau kuda! Walaupun desa, tapi cuma 4 jam dari New York sih. Dan saya di sana selama 4 tahun.

Tiga tahun pertama S1 di sana sangat asik. Teman-teman yang baik, kelas yang susah tapi sudah diantisipasi.

Tahun terakhir S2 saya benar-benar berat. Saya bahkan sempat berpikir untuk menyerah, tapi syukurnya tidak. Master Teknik Keuangan adalah gelar tertinggiku.

Apa hal ternakal yang pernah kamu lakukan saat masih kecil?

Sebagai anak sulung, Ayah saya selalu melototin saya tiap adik saya nangis. Dia bakal nanya, “Kenapa adikmu?”. Dan aku jawab, “errr… dia nangis?” Saya gak tau, tapi kadang iya saya tau kenapa dia nangis, tapi kenapa Ayah selalu nanya saya duluan? Bukan ke pengasuhnya? Arghhhh…

Hal ternakal yang pernah saya lakukan tentunya manjat pohon manga, dan sembunyi saat pengasuh saya nyariin.

Apa tiga hal penting yang kamu pelajari sejak umur 21?

  1. Orang tua saya sangat mencintai saya. Saya selalu punya keluarga tempat saya pulang.
  2. Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari dirimu. Tuhan menciptakan kamu, mencintai kamu, dan memberimu kekuatan super di dalam dirimu kalau kamu yakin dan percayakan Dia untuk membimbingmu. Semuanya dari Tuhan. Ada harapan di dalam-Nya, dan aku masih mempelajarinya. 😉
  3. Saya mempelajari kalau setiap orang itu unik, dan unik adalah cantik.

Siapa orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu?

Orang tua saya, terutama Ibu.

Kamu dan Ibumu mendirikan Sababay Winery. Ceritakan kami sejarah singkat dari New Latitude Wines-mu dan raison d’etre-nya!

Ibu saya selalu perhatian pada para petani, pada dasarnya pada orang-orang. Tahun 2009 (btw, tahun ini anniversary kita yang ke-10 tahun!!!) setelah bekerja di perusahaan keluarga besar selama 37 tahun, dia merasa sudah waktunya untuk masa ‘pensiun’ dan Bali adalah sebuah pilihan mengingat kami sangat suka Bali dan selalu melihatnya sebagai destinasi liburan. Mencampurkan bisnis dengan kesenangan adalah sebuah mimpi yang jadi kenyataan! Lalu dia mulai mengeksplor Bali.. sampai akhirnya kami sampai di Buleleng, daerah yang terkenal dengan pemandian air panas, scuba diving, dan lumba-lumba. Lalu kami melihat penjual anggur di pinggir jalan beserta kebunnya. Kami penasaran, jadi kami mampir dan ngobrol dengan petaninya.

Aku masih ingat jelas saat itu masih ada anggur yang menggantung di kanopi kebunnya. Sangat matang. Lalu kami bertemu petaninya dan mulai mengobrol. Saya bertanya, kenapa dia tidak memanen anggurnya. Dia bilang, “Saya hanya menjualnya 500 rupiah per kilogram, tidak menguntungkan.” Lalu dia menawarkanku untuk memanennya sendiri dengan harga itu.

Obrolan ini meninggalkan bekas yang mendalam di hati Ibu saya. 500 rupiah per kg? Kenapa? Penasaran itu pun bertumbuh. Saya disadarkan bagaimana kerasnya kehidupan petani di Indonesia.

Karena Ibuku adalah orang yang berfokus pada angka dan sifat bisnisnya sangat dominan.. Dia melihat Bali sebagai surganya bumi, orang-orang banyak berkunjung ke Bali, dan ketika mereka datang ke Bali, mereka ingin merasakan semua yang Bali bisa tawarkan. Berlaku juga pada makanan dan minuman. Dan setelahnya dia menemukan kalau anggur Bali bisa dijadikan wine, tapi 99% wine yang beredar di Bali adalah wine import. Karena itu, Ibu mulai mempelajari regulasi industri wine.

Visinya untuk membesarkan potensi lokal, pemberdayaan lokal, dengan pertukaran ilmu dan sistem bisnis terintgrasi, memproduksi produk berstandar international dengan tambahan nilai.. mulai membuat rencana setelah rencana, gerakan setelah gerakan.. Sababay adalah jembatan dua arah yang menghubungkan petani dan pasarnya.

Tanpa kami ketahui, sejak 2008 ada gerakan baru bernama New Latituted Wines (sebuah istilah dari Frank Norel), wilayah pembuatan wine non tradisional, yang bermula di Thailand.

Pada tahun 2015, menurut data pariwisata Bali, 21 juta liter wine dikonsumsi per tahunnya dan hanya 1% saja yang pembuatan lokal. Tahun 2017, angkanya naik menjadi 25%. Bagaimana Sababay Winery membantu menyeimbangkan surplus perdagangan ini? Kami mulai mengedarkan wine kami di pasaran pada tahun 2014, dan kami terus mendorongnya.. Improvisasi anggur dan wine kami, mengkreasikan tipe-tipe baru.. Dari awal, untuk mengenalkan wine kami, kami mengambil sisi keahlian masakan Indonesia yang saya percaya belum ada produser lain yang melakukan ini sebelumnya.. (Kami juga bekerja dengan komunitas pangan, seperti ACMI, Aku Cinta Masakan Indonesia.. dan Jalan Sutra, etc, untuk pengaktivan)

Indonesia punya hampir 13000 pulau yang mempunyai kekayaan rempah yang kami banggakan dan kami gunakan dalam memasak.. dan menyicipi makanan dengan wine kami akan memberikan dimensi yang berbeda dalam hal menikmati masakan khas Indonesia.

Kalau kamu lihat label belakang botol kami, kami menyarankan pendamping lokal dengan wine kami.

Berapa macam wine yang sudah kamu produksi sekarang?

Untuk Sababay Winery ada 12 wine,
Dari Sababay Distillery ada 3 liquors. Grappa dan yang paling baru itu ada vodka dan vodka infused yang sangat enak!
Lalu untuk Gereja Katolik ada satu anggur sakramen.

Tolong kenalkan kami ke ahli racikmu.

Namanya Nicholas Martin Delacressonniere, seorang lelaki Prancis yang mendekati kami lewat social media dan saya interview online J

Dia adalah pembuat wine muda yang siap pindah ke Bali untuk menandai sejarah profesionalnya.

Aku bilang ke dia, kalau latar dan pengalamannya di Prancis, medoc, Bordeaux, tidak membuat saya tertarik karena dia harus bekerja dengan anggur dan orang-orang kami.

Tapi dia mengambil tantangannya, dan sejujurnya saya bangga dia lakukan itu! Dia lelaki yang ramah, lucu, dan pekerja keras. Dia menyatu dengan tim kami dengan sangat baik. Saya pikir dia punya darah Indonesia yang tersembunyi entah dimana. Dia sangatlah adaptif, bahkan dengan makanan pedas!

Dengan jenggotnya karena tren pandemi, sepertinya dia terlihat keren!

Demi kebutuhan frasa yang lebih baik, kami merasakan gerakan Sababay menuju gaya wine yang lebih rendah gula, lebih “Old/New World”? Kamu setuju?

Wine adalah dunia yang sangat luas, dan kamu punya pemula, connoisseurs, peminum wine kasual.

Bagi saya, kami tidak bergerak ke gaya rendah gula.. Kami inign punya koleksi rendah gula untuk mereka selama di Indonesia. Tapi lagi-lagi, kami adalah New Latitude Wines dan kami tidak terinspirasi dari new world atau old world. Tapi identitas kami adalah wine tropical kami.

Kamu membuat anggur sakramen? Bagaimana bisa?

Saya masih merinding setiap ada yang bertanya tentang ini. Sejujurnya, ada keinginan dari orang tua saya untuk membuat anggur sakramen dari awal, karena di Gereja Katolik tidak semua orang menerima anggur saat misa. Jadi waktu berlalu dan kami bertemu seseorang di komunitas katolik yang sebenarnya, sudah sejak lama, ingin membuat anggur sakramen lokal! Jadi kami terhubung dan mulai semuanya dari sana.

Saya percaya hal ini butuh waktu sampai 8 bulan untuk menghasilkan keputusan mengajak anggur Sababay untuk mewujudkannya. Kami kedatangan para pendeta yang punya kemampuan ‘khusus’ dalam membuat anggur sakramen.. dan para monsinyur juga datang ke kilang anggur kami untuk menandatangani persetujuan dan memberkati kilang anggur kami.

Saya percaya, selalu ada waktu yang tepat untuk semuanya dan cerita tentang anggur sakramen ini adalah salah satu contohnya!

Menurutmu, apakah kamu bakal ketemu Paus? Atau kirim dia sebotol anggur sakramenmu?

Tentu! Ibu dan saya punya perasaan kalau kami akan bertemu Paus!

Kamu baru saja memulai wine-tasting soirées dengan gaya piknik di taman kilang anggurmu. Ceritakan kami sedikit tentang itu.

Sebenarnya, untuk menikmati wine itu lebih enak di luar, dengan musik dan teman-teman yang asik.. dan tentunya saya dan tim sangat suka menciptakan suasana.. dan mempromosikan masakan khas Indonesia dan semua padanan lokal seperti kripik singkong dengan sambal matah dabu-dabu dengan white wine, sate lilit dengan rose, dan keju lokal dengan port wine, mascetti.

Sekarang kamu punya penyulingan dan berhasil menciptakan Grappa khas Italia yang sangat halus! Bagaimana itu bisa terjadi?

 Sebenarnya kami beli mesin suling tembaga untuk membuat anggur sakramen. Tapi kami menyadari, mesin ini bisa membuka pintu ke hal-hal menyenangkan lainnya! J Dan sekarang kami membuat alcohol dari anggur murni, liquor pertama yang kami buat! Grappa di Itali sebenarnya terbuat dari sisa anggur wine, tapi punya kami terbuat dari anggur segar, bukan sisa-sisa.. Itulah kenapa Grappa kami terasa sangat enak, sangat halus!

Terakhir, apakah kamu punya pesan atau harapan untuk masa sulit seperti saat ini?

Saya yakin respon atau sikap kita terhadap apa yang terjadi kepada kita dan sekitar sangatlah penting dalam menentukan hidup ke depannya. Untuk tetap hidup dalam keyakinan, dan bukan dari penglihatan, adalah latihan rutin setiap hari, dan dalam masa seperti sekarang adalah latihan yang ‘lebih susah’. Dan keyakinan ini adalah keyakinan yang aktif, yang meliputi aksi dan keputusan.

Pesan harapan saya adalah ada Tuhan yang sangat mencintaimu dan Dia menunggumu untuk datang pada-Nya, percaya, dan mengerahkan seluruh hatimu untuk Dia. Tetap mencari ‘iman’ dalam dirimu, dan jangan terlalu serius terhadap hidup. Berbaiklah pada dirimu sendiri. Itu lah kenapa saya selalu punya satu atau dua botol wine di dekat saya setiap waktu. Cheers! J

Terima kasih banyak untuk waktumu, Evy.

http://sababaywinery.com

www.facebook.com/evy.gozali.1

The Yak’s Thanksgiving Golf 2020 At BNGR. Fore!

Follow Us On Instagram